Senin, 19 Desember 2011

Manufacturing Hope! ala bapak Dahlan Iskan yg saya kagumi

Manufacturing Hope 1
Senin, 21 November 2011

Industri apakah yang harus pertama-tama dibangun di BUMN? Setelah sebulan menduduki jabatan menteri negara badan usaha milik negara (BUMN) dan setelah mengunjungi lebih dari 30 unit usaha milik publik ini, saya bertekad untuk lebih dulu membangun industri yang satu ini: manufacturing hope! Industrialisasi harapan.

Itu bisa saya lakukan setelah saya berketetapan hati untuk lebih memerankan diri sebagai seorang chairman/CEO daripada seorang menteri. Kepada jajaran Kementerian BUMN, saya sering” bergurau “lebih baik saya seperti chairman saja dan biarlah wakil menteri BUMN yang akan memerankan diri sebagai menteri yang sebenarnya”.

Sebagai chairman/CEO Kementerian BUMN, saya akan lebih fleksible, tidak terlalu kaku, dan tidak terlalu dibatasi oleh tembok-tembok birokrasi. Dengan memerankan diri sebagai chairman/CEO, saya akan mempunyai daya paksa kepada jajaran korporasi di lingkungan BUMN.

Meski begitu, saya akan tetap ingat batas-batas: seorang chairman/CEO bukanlah seorang president director/CEO. Ia bisa mempunyai daya paksa, tapi tidak akan ikut melaksanakan. Tetaplah penanggung jawab pelaksanaannya adalah president director/CEO di masing-masing korporasi BUMN.

Dengan peran sebagai chairman/CEO, saya tidak akan sungkan dan tidak akan segan-segan ikut mencarikan terobosan korporasi. Ini sesuai saja dengan arahan Presiden SBY bahwa menteri yang sekarang harus bisa berlari kencang. Dengan memerankan diri sebagai chairman/CEO, saya akan bisa memenuhi harapan tersebut.

Tengoklah, misalnya, bagaimana kita harus menghadapi persoalan hotel-hotel BUMN kita yang berada di Bali. Semuanya sudah berpredikat yang paling buruk. Inna Kuta Hotel sudah menjadi yang terjelek di kawasan Pantai Kuta. Inna Sanur (Bali Beach) sudah menjadi yang terjelek di kawasan Pantai Sanur. Inna Nusa Dua (Putri Bali) sudah pasti menjadi yang terjelek di kawasan Nusa Dua yang gemerlapan itu. Bukan hanya yang terjelek, tapi juga sudah mau ambruk.

Padahal, pada zaman dulu, hotel-hotel ini tergolong yang terbaik di kelasnya. Kini, di arena bisnis perhotelan di Bali, hotel-hotel BUMN telah menjadi lambang kemunduran, keruwetan, dan kekumuhan.

Memang pernah ada upaya untuk bangkit. Direksi kelompok hotel ini (Grup PT Hotel Indonesia Natour) pernah diperbarui. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Jajaran direksinya diambilkan dari para profesional dari luar BUMN.

Dengan semangat profesionalisme, grup ini?ingin mulai merombak dua hotelnya: di Padang dan di Kuta. Tapi, dua-duanya mengalami kesulitan. Yang di Padang over investasi. Yang di Kuta sudah enam bulan mengalami slow-down. Yang di Padang itu bisa disebut over investasi karena?jumlah kamarnya jauh lebih besar daripada pasarnya. Ini akan sangat sulit mengembalikan investasinya. Sedangkan yang di Kuta ada persoalan desain yang cukup serius.

Mengapa yang di Padang bisa terjadi over investasi” Ini tak lain karena kultur BUMN yang belum bisa menghindar dari intervensi. Begitu ada perintah untuk membangun hotel dengan skala yang sangat besar, direksinya tidak mampu meyakinkan bahwa skala itu kebesaran. Terutama dilihat dari kemampuan perusahaan. Permasalahan yang di Kuta lebih rumit lagi karena ketambahan masalah birokrasi.

Dua proyek ini kemudian menjadi isu yang ruwet. Ujung-ujungnya, direktur utama yang didatangkan dari luar BUMN itu tidak tahan lagi dan mengundurkan diri. Dalam suasana ruwet seperti itu, tidak mungkin perusahaan bisa maju. Bahkan, moral manajemen dan karyawannya pun bisa rusak, down, dan lalu putus harapan.

Maka, dalam kesempatan tiga hari menghadiri KTT ASEAN di Bali pekan lalu, saya manfaatkan waktu untuk manufacturing hope. Selama di Bali, saya tidak tidur di hotel bintang lima di kompleks KTT berlangsung, tapi memilih tidur di Inna Hotel Kuta yang katanya terjelek itu. Saya ingin ikut merasakan kesulitan manajemen dan karyawan di hotel tersebut. Saya ingin mendalami persoalan yang menghadang mereka. Pagi-pagi saya turun naik di proyek setengah jadi itu.

Menjelang senja kembali turun naik lagi entah sampai berapa kali. Saya ingin, kalau bisa, menerobos hambatannya. Setidaknya saya ingin mereka tidak merasa sendirian dalam kesulitannya. Bahkan, pada malam kedua, saya tidur di kamar mock-up di tengah-tengah proyek yang lagi slow-down itu. Saya melakukan ini tidak lain untuk manufacturing hope.

Hasilnya, insya Allah, cukup baik. Pada hari kedua, semua persoalan bisa teruraikan. Proyek hotel yang sangat grand ini bisa dan harus berjalan kembali. Bahkan, tahun depan harus sudah jadi. Diputuskanlah hari itu: sebuah hotel baru dengan nama baru (Grand Inna Kuta) akan lahir dan menjadi sangat iconic. Apalagi, letaknya hanya di seberang Hard Rock Hotel dengan posisi yang jauh lebih baik karena langsung punya akses ke Pantai Kuta.

Pun, selesai upacara pembukaan KTT ASEAN (selesai melihat cantiknya Perdana Menteri Thailand yang baru, Yingluck Sinawatra) saya copot jas, ganti sepatu kets, dan langsung meninjau luar dalam Hotel Inna Putri Bali. Lokasinya tidak jauh dari gedung megah untuk KTT ASEAN di Nusa Dua itu.

Saya perhatikan mulai dapurnya, ruang cucinya, kamarnya, kebunnya, pantainya, hingga cottage-cottage-nya. Ternyata benar. Bukan hanya telah menjadi yang terjelek di Nusa Dua, tapi juga sudah mau ambruk. Di sini saya juga harus manufacturing hope. Tahun depan hotel yang sangat luas ini harus sudah mulai dibangun ulang.

Setelah membuat keputusan soal Nusa Dua, malam ketiga saya memilih tidur di Sanur. Hotel seluas (duile!) 41 hektare ini juga perlu dibangkitkan. Inilah hotel berbintang yang pertama di Bali. Inilah warisan Bung Karno. Kondisinya sudah kalah dengan tetangga-tetangganya. Hotel ini memiliki garis pantai matahari terbit sejauh 1 km! Alangkah hebatnya. Mestinya.

Saya tentu menginginkan tahun depan hotel besar ini juga ikut bangkit. Mengapa? Sebab, tiga-tiganya berada di Bali. Sebuah kawasan wisata yang pertumbuhannya sangat tinggi. Memang Grup Inna Hotel masih punya puluhan hotel lainnya di seluruh Indonesia (dan umumnya juga dalam keadaan termehek-mehek), namun sebaiknya fokus dulu di tiga hotel ini. Dari sinilah kelak hope akan ditularkan ke seluruh Indonesia.

Tiga hotel besar inilah yang lebih dulu akan menjadi titik tolak kebangkitan entah berapa banyak hotel BUMN ke depan. Saya sebut “entah berapa banyak” karena banyak BUMN yang kini juga memiliki hotel. Grup Inna punya banyak hotel. Garuda Indonesia punya banyak hotel.

Pertamina punya banyak hotel. Kontraktor seperti Perusahaan Perumahan punya banyak hotel. Bahkan, Jasa Marga, konon, juga sedang menyiapkan banyak hotel. Karena itu, keberhasilan tiga pioner di Bali tadi akan besar artinya bagi BUMN.

Memang sebulan pertama ini baru hope yang bisa dibangun. Tapi, kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, mengapa kita tidak manufacturing hope. Bahan bakunya gampang didapat: niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas. Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

Dahlan Iskan
Menteri Negara BUMN

Sabtu, 17 Desember 2011

Biografi Dahlan iskan. sang Pembaharu

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), dalam bukunya Ganti Hati ada cerita menarik tentang tanggal kelahiranya, Dahlan Iskan menuturkan bahwa tanggal tersebut dikarang sendiri oleh pak Dahlan karena pada waktu itu tidak ada catatan kapan dilahirkan dan orang tuanya juga tidak ingat tanggal kelahirannya. Dan kenapa pak Dahlan memilih tanggal 17 Agustus, karena bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia dan supaya mudah diingat.

Dahlan kecil dibesarkan dilingkungan pedesaan dangan serba kekurangan, akan tetapi sangat kental akan suasana religiusnya. Ada cerita menarik yang saya baca pada buku beliau Ganti Hati yang menggambarkan betapa serba kekurangannya beliau ketika waktu kecil. Disitu diceritakan Dahlan kecil hanya memiliki satu celana pendek dan satu baju, tapi masih memiliki satu sarung!. Dan dengan joke-joke pak Dahlan yang segar beliau menceritakan kehebatan dari sarung yang dimiliki. Disini beliau menceritakan bahwa sarung bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan sampai menjadi alat untuk menakut-nakuti.

Kalau Dahlan kecil lagi mencuci baju, sarung bisa dikemulkan pada badan atasnya. Kalau lagi mencuci celana, sarung bisa dijadikan bawahan. Kalau lagi cari sisa-sisa panen kedelai sawah orang kaya, sarung itu bisa dijadikan karung. Kalau perut lagi lapar dan dirumah tidak ada makanan, sarung bisa diikatkan erat-erat dipinggang jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau mau sholat jadilah dia benda yang penting unutk menghadap Tuhan. Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau sarung itu sobek masih bisa dijahit. Kalau ditempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalanya pun robek, sarung itu belum tentu akan pensiun. Masih bisa dirobek-robek lagi, bagian yang besar bisa digunakan sebagai sarung bantal dan bagian yang kecil bisa dijadikan popok bayi. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita beliau, bahwa apapun kondisi kita, baik kurang, cukup atau lebih kita harus tetap bersyukur, sabar dan harus menikmati semuanya dengan apa adanya.



Dahlan Iskan Bersama Jawa POS

Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin dan Belanda. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.
Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia pada tahun 2000.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. [3][1] Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.[1]

Ref :
http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlan_Iskan
http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/01/14/tokoh-indonesia-si-raja-media-dahlan-iskan/
http://hurek.blogspot.com/2008/01/dahlan-iskan-sang-maestro-bertutur.html
Buku Ganti Hati

Kamis, 01 Desember 2011

mengambil hikman dari buku Robert T kiyosaki

Pernahkah teman-teman baca buku Robert T kiyosaki ( Rich dad Poor dad ) ?
buku itu cukup bagus untuk menambah ilmu dan motivasi kita..
kalo menurutku di dalam buku tersebut mengandung makna :
- kita harus investasi u/ masa mendatang
- mengurangi sifat konsumtif yg tidak sesuai dengan pengeluaran kita ( besarlah pasak dari pada tiang )
jangan terlena dengan buaian dari kartu kredit karna itu merupakan jebakan sifat konsumtif. tidak masalah kalo uang kita berlebihan , tetapi jika duit kita pas2an maka kita akan terlilit utang.
- harus mampu melihat dan mendengarkan peluang sekecil apapun ,( kalo menurutku siih, kalo kita bekerja di perusahaan jangan terlalau royal, tetapi jika ada peluang perusahaan laen yg memberikan uang bayarann dan komisi yg lebih , maka kita ambil )
- uang bukan tolak ukur dari kebahagiaan.. tp hasrat dan keinginan kita dalam mengejar uang tersebut ( kalo menurutku sihh.. dengan kita mendapatkan cukup uang maka kita bisa membahagiakan keluarga kita.. sehingga timbul hasrat u/ menyenangkan orang lain melalui perantara diri kita )
- investasi di pendidikan itu sangat penting, karna dari investasi pendidkan tersebut kita mempunya pola pikir untuk mengetahui tetan kecerdasaan financial kita .
- Memiliki uang tanpa kecerdasan finansial , maka keuangan kita akan semrwut.
- banyak- banyakl bersedekah ( menurutku sesuai janji allah swt, kita memberi 1.. maka nanti kita akan menerima 10 )

itu hasil pemikiran ku..mungkin teman-teman tidak sependapat dengan aku...mungkin ada penafsiran laen..berarti kita adalah manusia yg berfikir..:-))
yukk kita lihat sekilas tentang buku tersebut

pengantar: Buku ini menceritakan 2 “ayah” Robert T. Kiyosaki, yakni ayah kandungnya -sebagai kepada dinas pendidikan di Hawaii, yang berpendidikan tinggi, tapi tidak mengajarkan -yang disebut Robert- intelegensi finansial, dan meninggal dunia tanpa meninggalkan sepeser uang. Ayahnya ini dipanggilnya “poor dad” karena dianggapnya tidak melek finansial. Sedangkan ayah ke-2, sebenarnya adalah ayah temannya (nama temannya adalah Mike) yang ketika mereka berdua masih berumur 9 tahun, “ayah” tsb ( disebutnya “rich dad”) mulai berbisnis banyak (toko, konstruksi, restoran) dalam skala kecil, dan meninggal dalam keadaan mewariskan imperium bisnis kepada anaknya, si Mike.

========================

Rich Dad, Poor Dad: Apa yang diajarkan orang kaya pada Anak-anak Mereka tentang Uang -yang Tidak Diajarkan oleh Orang Miskin dan Kelas Menengah!
Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L.Lechter C.P.A
Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2006 Cetakan ke-21
Aslinya: Copyright @1997, 1998


Hal 29:
“Jadi, apa yang akan memecahkan masalah?”, tanya saya. “Menerima begitu saja uang 10 sen yang amat kecil ini dan tersenyum?”

Ayah saya yang kaya tersenyum,”Itulah yang dilakukan oleh banyak orang. Mereka dengan pasrah hanya menerima slip gajikarena tahu bahwa tanpa itu, mereka sekeluarga akan kesulitan secara finansial. Tetapi hanya itu yang mereka lakukan, menanti kenaikan upah dengan berpikir bahwa uang yang lebih banyak akan memecahkan masalah. Kebanyakan hanya menerimanya, dan sebagian mencari pekerjaan sambilan untuk bekerja lebih keras, tapi lagi-lagi menerima upah yang kecil”.

Saya duduk memandangi lantai, mulai memahami pelajaran yang diberikan oleh ayah saya yang kaya. Saya bisa merasakan inilah rasanya kehidupan. Akhirnya saya memandang ke atas lagi dan bertanya, “Jadi, apa yang akan memecahkan masalah?”

“Ini”, katanya sambil menepuk kepala saya perlahan-lahan. “Benda di antara kedua telingamu ini.”

Hal 40; penjelasan oleh Rich Dad:
“Tidak, kekayaan tidak memecahkan masalah. Saya akan menjelaskan emosi yang lain, yaitu hasrat dan keinginan. Ada yang menyebutnya ketamakan, tapi saya lebih senang menyebutnya keinginan. Sangatlah wajar bila orang menginginkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah, lebih menyenangkan. Jadi orang bekerja untuk uang karena keinginan. Mereka menginginkan uang untuk kesenangan yang mereka pikir bisa mereka beli. Tetapi kesenangan yang dibawa oleh uang seringkali tidak lama, dan mereka pun segera menginginkan uang lebih banyak untuk mendapatkan kesenangan lebih banyak, kenikmatan lebih banyak dan keterjaminan lebih banyak. Karena itu mereka terus bekerja, mengira bahwa uang akan menenangkan jiwa mereka yang diganggu oleh rasa takut dan keinginan. Tetapi uang tidak dapat menenangkan jiwa.”

Hal 58; Usahawan Terkaya
Pada tahun 1932, sekelompok pemimpin kami yang paling hebat dan para usahawan terkaya mengadakan sebuah pertemua di Hotel Edgewater Beach di Chicago. Diantara mereka yang hadir tampak Charles Schwab, pimpinan perusahaan baja terbesar; Samuel Insull, presiden perusahaan jasa publik terbesar di dunia; Howard Hopson, pimpinan perusahaan gas terbesar; Ivan Kreuger, presiden International Match Co., salah satu perusahaan terbesar di dunia pada waktu itu; Leon Frazier, presiden Bank of International Settlements; Richard Whitney, presiden New York Stock Exchange; Arthur Cotton dan Jesse Livermore, dua spekulator saham terbesar; dan Albert Fall, anggota kabinet Presiden Harding. Dua puluh lima tahun kemudaian, sembilan dari mereka (yang tercantum di atas), nasibnya berakhir seperti berikut: Schwab meninggal tanpa uang sepeser pun setelah hidup selama lima tahun dengan uang pinjaman. Insull meninggal tanpa uang di tanah asing. Kreuger dan Cotton juga meninggal tanpa uang. Hopson menjadi gila. Whitney dan Albert Fall baru saja dilepaskan dari penjara. Fraser dan Livermore mati bunuh diri.

Saya ragu apakah orang bisa mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Jika kita melihat tahun terjadinya, 1923, itu persis sebelum terjadinya kehancuran pasar dan Depresi Besar pada 1929, yang saya duga berpengaruh sangat besar pada orang-orang itu dan kehidupan mereka. Poinnya adalah begini: Sekarang kita hidup dalam zaman perubahan yang lebih besar dan lebih cepat daripada yang mereka alami. Saya sangat prihatin bahwa terlalu banyak orang menaruh perhatian terlalu besar pada uang dan bukan pada harta mereka yang terpenting, yakni pendidikan mereka. Jika orang disiapkan untuk fleksibel, berpikiran terbuka, dan terus belajar, mereka akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan itu. Jika mereka mengiran bahwa uang akan memecahkan masalah mereka, saya khawatir orang-orang ini akan menjalani hidup yang berat dan buruk. Kecerdasan bisa memecahkan masalah dan menghasilkan uang. Memiliki uang tanpa kecerdasan finansial akan membuat uang itu cepat habis.

Kebanyakan orang tidak bisa menyadari bahwa yang penting dalam hidup ini bukanlah berapa banyak uang yang bisa Anda hasilkan, tetapi berapa banyak uang yang bisa Anda simpan. Kita tentu pernah mendengar kisah-kisah tentang orang miskin yang memenangkan undian. Secara tiba-tiba mereka menjadi kaya raya, tapi tak lama kemudian jatuh miskin lagi. Mereka memenangkan undian atau lotere jutaan dolar, tapi dalam waktu singkat mereka kembali ke titik di mana mereka mulai. Atau kisah tentang para atlet profesional, yang pada umur 24 tahun, meraup uang jutaan dolar setahun, dan tidur di bawah kolong jembatan pada umur 34 tahun. Dalam sebuah surat kabar yang saya baca ketika saya menulis buku ini, ada cerita tentang seorang pemain basket yang masih muda yang tahun lalu memiliki uang jutaan dolar. Sekarang, dia mengklaim teman-temannya, pengacara dan akuntan telah mengambil uangnya, dan saat ini dia bekerja di tempat cuci mobil dengan upah yang minim.

Hal 74: Kisah tentang bagaimana pencarian impian finansial berubah menjadi mimpi buruk finansial

Ini diperlihatkan sangat baik dengan kembali kepada pasangan muda yang keduanya sama-sama bekerja. Karena pemasukan/penghasilan mereka naik, mereka memutuskan untuk pindah (dari apartemen) dan membeli rumah impian mereka. Setelah tinggal di rumah baru, mereka mempunyai sebuah pajak baru, yang disebut pajak properti (PBB). Kemudian mereka membeli sebuah mobil baru, furnitur baru, peralatan baru yang sesuai dengan rumah baru mereka. Semuanya terjadi dalam sekejap, mereka terjaga dan kolom liabilitas mereka penuh dengan utang kredit rumah dan utang kartu kredit.

Aset & Liabilitas sebagian pasangan muda (Robert T. Kiyosaki)

Mereka sekarang terjebak dalam perlombaan tikus. Anak yang mereka harapan pun lahir sudah. Mereka bekerja lebih keras lagi. Proses itu pun terulang dengan sendirinya. bla bla bla akhirnya kartu kredit mereka terlunasi dengan menutupnya dengan hipotek rumah. Cicilan mereka turun karena mereka memperpanjang utang mereka sampai 30 tahun lebih.

Tetangga mereka menelpon dan mengundang mereka untuk berbelanja -maklum obral besar menjelang hari raya sedang digelar di semua toko dan mal. Sebuah kesempatan untuk menghemat uang, karena harga jelas lebih murah. Mereka berkata dalam hati, “Saya tidak akan membeli apa pun. Saya akan melihat-lihat saja.” Tetapi bila kebetulan mereka menemukan sesuatu, mereka pun akan mengeluarkan kartu kredit mereka dari dompet.

Saya bertemu pasangan muda seperti ini sepanjang waktu, hanya saja nama-nama mereka berbeda, tetapi masalah finansial mereka tetap sama. Mereka datang ke salah satu seminar saya untuk menedengarkan apa yang harus saya katakan. Mereka bertanya pada saya, “Bisakah Anda mengatakan pada kami bagaimana caranya menghasilkan uang lebih banyak?” Kebiasaan mereka menghabiskan/membelanjakan uang telah membuat mereka mencari uang yang lebih banyak.

Mereka bahkan tidak tahu bahwa masalah sesungguhnya adalah bagaimana mereka memilih membelanjakan uang yang memang mereka miliki, dan itulah penyebab riil dari pergumulan finansial mereka. Ini disebabkan oleh kebutaan finansial dan tidak memahami antara aset dan liabilitas.

Uang yang lebih banyak tidak selalu menyelesaikan masalah uang yang dialami seseorang. Intelegensilah yang menyelesaikan masalah. Ada perumpamaan yang dikatakan oleh seorang teman saya berulan kali kepada mereka yang berutang, “Jika kamu mendapati dirimu dalam sebuah lubang… berhentilah menggali.”

Hal 79:
Diagram di bawah ini mengilustrasikan perbedaan persepsi antara ayah saya yang kaya dan ayah saya yang miskin mengenai rumah mereka. Ayah yang satu berpikir bahwa rumahnya adalah aset, dan ayah satunya lagi berpikir bahwa rumahnya adalah liabilitas (kewajiban).

Rumah termasuk aset atau liabilitas?

Saya ingat ketika saya menggambar diagram berikut ini untuk memperlihatkan arah arus kas kepada ayah saya. Saya juga memperlihatkan kepadanya pengeluaran tambahan akibat memiliki rumah. Sebuah rumah yang lebih besar berarti pengeluaran yang lebih besar, dan arus kas terus keluar melalui kolom pengeluaran.

Mengapa rumah termasuk liabilitas, bukan aset?

Hal 127
Permainan CASHFLOW (buatan Robert, red) didisain untuk memberikan umpan balik pribadi kepada setiap pemain. Tujuanya adalah memberi Anda pilihan. Jika Anda menarik kartu bergambar kapal dan itu menempatkan Anda dalam utang, pertanyaannya adalah, “Sekarang, apa yang dapat Anda lakukan?” Berapa banyak pilihan finansial yang berbeda dapat Anda ajukan? Itulah tujuan permainan itu: mengajar pemain untuk berpikir dan menciptakan pilihan-pilihan finansial yang baru dan beragam.

Ada orang yang bermain CASHFLOW memperoleh banyak uang dalam permainan itu, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hal itu. Kebanyakan dari mereka juga tidak berhasil secara finansial dalam kehidupan nyata sehari-hari. Setiap orang lain kelihatan lebih maju daripada mereka, sekalipun mereka mempunyai banyak uang. Dan itu benar dalam kehidupan nyata. Ada banyak orang yang mempunyai banyak uang dan tidak maju secara finansial.

Membatasi pilihan Anda sama saja dengan bergantung pada gagasan-gagasan lama. Saya mempunyai seorang teman SMU yang sekarang bekerja di tiga pekerjaan. Dua puluh tahun yang lalu, dia adalah yang terkaya di kelas saya. Ketika perkebunan gula setempat ditutup, perusahaan tempat dia bekerja turut merosot bersama perkebunan itu. Dalam benaknya, dia hanya mempunyai satu pilihan dan itu adalah pilihan kuno: bekerja keras. Masalahnya adalah, dia tidak dapat menemukan pekerjaan setara yang mengakui senioritasnya dalam perusahaan lama.Akibatnya, pekerjaan yang sekarang dia dapatkan sebenarnya berada di bawah kualifikasi yang dimilikinya, sehingga upahnya pun lebih rendah. Dia sekarang mengerjakan tiga pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bertahan hidup.

Hal 129
Sebagai anak muda, Mike dan saya terus-menerus diberi tahu oleh ayah saya yang kaya bahwa “Uang tidaklah riil”. Ayah yang kaya kadang-kadang mengingatkan kami tentang betapa dekatnya kami dengan rahasia uang pada hari pertama kami berkumpul dan mulai “membuat uang” dari batu gips. “Orang miskin dan kelas menengah bekerja untuk uang“, katanya. “Orang kaya menciptakan uang. Semakin riil uang itu menurut kalian, semakin keras kalian akan bekerja untuknya. Jika kalian dapat mengerti gagasan bahwa uang tidak riil, kalian akan tumbuh lebih kaya dengan lebih cepat.”

Satu-satunya aset yang paling kuat yang kita miliki adalah pikiran kita. Jika pikiran dilatih dengan baik, ia dapat menciptakan kekayaan yang luar biasa dalam waktu yang kelihatannya singkat. Kekayaan yang melampaui impian para raja dan ratu 300 tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terlatih juga dapat menciptakan kemiskinan yang ekstrim yang akan terus berlanjut dengan mengajarkannya pada keluarga mereka.

Hal 153:
Di sekolah dan tempat kerja, pendapat populer adalah ide tentang “spesialisasi”. Yakni, untuk mendapatkan uang lebih banyak atau dipromosikan, Anda harus mengambil “spesialisasi“. Itu sebabnya para dokter medis selalu mencari spesialisasi. Hal yang sama juga berlaku untuk akuntan, arsitek, pengacara, pilot, dan lain-lain. Ayah saya yang berpendidikan bercaya pada dogma yang sama itu. Itu sebabnya dia sangat bersemangat ketika dia akhirnya mencapai gelar doktoralnya. Dia sering mengakui bahwa sekolah mengganjar orang yang semakin banyak belajar tentang apa yang kurang.

Ayah yang kaya mendorong saya untuk melakukan hal yang sebaliknya, “Kamu ingin tahu sedikit tentang apa yang banyak” adalah sarannya. Itu sebabnya selama bertahun-tahun saya bekerja di bidang-bidang yang berbeda dalam perusahaannya.Untuk sementara, saya bekerja di departemen akuntingnya. Meskipun mungkin saya tidak akan pernah menjadi akuntan, dia ingin saya belajar lewat “osmosis” (pelajaran/pengertian yang berangsur-angsur). Ayah yang kaya tahu saya akan mengambil “jargon” dan pengertian akan apa yang penting dan apa yang tidak penting. Saya juga bekerja sebagai kenek dan pekerja bangunan, dan juga penjualan, pemesanan, dan pemasaran. Dia “mengurus” Mike dan saya. Itu sebabnya dia mendesak kami duduk dalam pertemuan dengan para bankir, pengacara, akuntan, dan broker-nya. Dia ingin kami tahu sedikit tentang setiap aspek imperiumnya.

Hal 156:
Sekali orang terjebak dalam proses seumur hidup untuk membayar tagihan, mereka menjadi seperti tupai kecil yang berlari-lari dalam lingkaran sangkar mereka yang kecil. Kaki-kaki kecil mereka yang berbuku berputar mati-matian, sangkarnya pun berputar kencang, tetapi ketika esok tiba, mereka masih tetap berada dalam sangkar yang sama: pekerjaan yang hebat (sindiran, red)

Hal 160:
Ketika saya bertanya pada kelas yang saya ajar, “Berapa banyak dari kalian yang dapat memasak hamburger yang lebih enak ketimbang McDonalds?” Hampir semua murid mengangkat tangan mereka. Kemudian saya bertanya, “Jadi, jika kebanyakan dari kalian dapat memasak hamburger yang lebih enak, bagaimana McDonald’s bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada kalian?”

Jawabannya jelas: McD sangat hebat dalam sistem bisnis. Alasan kenapa begitu banyak orang berbakat itu miskin adalah karena mereka memfokuskan diri untuk membangun hamburger yang lebih enak, dan hanya tahu sedikit atau tidak sama sekali tentang sistem bisnis.

Hal 164:
Kedua ayah saya bersifat murah hati. Keduanya mudah memberi. Mengajar adalah satu cara mereka untuk memberi. Semakin banyak mereka memberi, semakin banyak yang mereka terima. Satu perbedaan yang mencolok adalah dalam hal memberikan uang. Ayah yang kaya memberikan banyak uang begitu saja. Dia memberi pada tempat ibadahnya, yayasannya, untuk berbagai kegiatan amal. Dia tahu bahwa untuk menerima uang, Anda harus memberi uang. Memberi uang adalah rahasia bagi kebanyakan keluarga yang sangat kaya. Itu sebabnya ada organisasi seperti Rockefeller Foundation dan Ford Foundation. Organisasi-organisasi itu dirancang untuk mengambil kekayaaan mereka dan meningkatkannya, dan juga memberikannya untuk selama-lamanya.

Ayah saya yang berpendidikan selalu mengatakan, “Bila saya mempunyai uang lebih, saya akan memberikannya.” Masalahnya adalah, tidak pernah ada uang lebih. Maka dia bekerja semakin keras untuk mendapatkan uang lebih banyak daripada memfokuskan diri pada hukum uang yang paling penting,“Berikanlah dan Anda akan menerima”. Sebaliknya dia percaya pada “Terimalah dan kemudian Anda memberi”.

Hal 215:
Kita pergi ke sekolah untuk belajar suatu profesi sehingga kita dapat bekerja untuk mendapatkan uang. Menurut pendapat saya, belajar bagaimana memiliki uang yang bekerja untuk Anda juga penting.

Saya menyukai kemewahan saya seperti halnya orang lain. Perbedaannya asalah, sebagian orang membeli kemewahan mereka dengan cara kredit. Ini jebakan -mengikuti-keluarga-Salim. Ketika saya ingin membeli mobil Porsche, jalan yang termudah adalah menelpon bankir saya dan mendapatkan pinjaman. Alih-alih memilih berfokus pada kolom liabilitas, saya memilih berfokus pada kolom aset.

Sebagai kebiasaan, saya menggunakan hasrat/nafsu saya untuk mengkonsumsi untuk mengilhami dan memotivasi kejeniusan finansial saya untuk berinvestasi.

Sekarang ini terlalu sering, kita lebih berfokus pada meminjam uang untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan ketimbang berfokus pada menciptakan uang. Yang satu lebih mudah untuk jangka pendek, tetapi lebih sulit untuk jangka panjang. Adalah suatu kebiasaan buruk bahwa kita sebagai individu dan sebagai bangsa telah jatuh ke sana. Ingatlah, jalan yang mudah seringkali menjadi sulit, dan jalan yang sulit menjadi mudah.

Hal 218
Ayah saya yang kaya memberi uang sekaligus pendidikan. Dia sangat percaya akan zakat atau derma. Dia akan selalu mengatakan, “Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu harus memberi lebih dulu.” Ketika dia kekurangan uang, dia tetap memberikan uangnya pada tempat ibadah atau ke lembaga sosial kesukaannya.

Jika saya dapat meninggalkan satu gagasan tunggal untuk Anda, ya gagasan itu. Kapanpun Anda merasa “kekurangan” atau “membutuhkan” sesuatu, berikanlah dulu apa yang Anda inginkan dan itu akan kembali pada Anda berlimpah-limpah. Itu benar untuk uang, sesungging senyum, cinta, dan persahabatan. Saya tahu hal ini seringkali merupakan hal terakhir yang mau dilakukan seseorang, tetapi itu selalu berhasil untuk saya. Saya percaya bahwa prinsip timbal balik itu benar, dan saya memberikan apa yang saya inginkan. Saya menginginkan uang, maka saya memberikan uang, dan itu kembali berlipat ganda. Saya ingin meningkatkan penjualan, maka saya membantu orang lain menjual sesuatu, dan penjualan pun mendatangi saya. Saya menginginkan koneksi, dan saya membantu orang lain mendapatkan koneksi, dan seperti sulap, koneksi mendatangi saya. Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar sebuah perumpamaan yang berbunyi, “Tudah tidak perlu menerima, tetapi manusia perlu memberi”.


postingan di copy dan sedikit ane edit dari

http://nnur.staff.uii.ac.id/2009/11/02/kutipan-rich-dad-poor-dad-robert-t-kiyosaki-bersama-sharon-llechter-cpa/